Senin


Rektor Cup, Apakah Mengganggu Kuliah?

   
        Rektor cup adalah acara tahunan tingkat Universitas. Perlombaan yang wajib diikuti oleh seluruh fakultas di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Pada penyelenggaraannya dilakukan saat masih hari-hari perkuliahan.
            Menurut hasil penyelidikan tim (Nama buletin), banyak diantara peserta yang merasa kuliahnya terganggu karena harus izin kuliah untuk mengikutirektor cup. Salah satunya adalah Ari Widya Nugraheni “Saya agak terganggu dengan rektor cup puisi ini, jadwalnya tabrakan sama kuliah, jadi harus bolos kuliah deh,” papar mahasiswi semester dua Fakultas Psikologi. Selain itu juga ada Nur Dwi “Iya mau gimana lagi,harus bolos kuliah buat lomba ini,”ujar mahasiswi semester dua Jurusan Akuntansi.
            Lain hal dengan kedua peserta tersebut. Salah satu panitia penyelenggara Rektor Cup Penalaran, yaitu Pangestu Dwipa merasa tidak terganggu dengan penyelenggaraan Rekyor Cup ini “Itu sih tergantung mahasiswanya aja,  bisa ngatur waktu. Klo panitia mungkin bisa diatur, karena lomba kami ini waktu weekend, jelas mahasiswa semester empat Jurusan Teknik Sipil.
            Penyelenggaraan Rekor Cup di minggu perkuliahan ini bukan tanpa sebab. Menurut pihak Universitas, Ibu Dr. Diah Karmiyati,Psi “Rektor Cup memang sengaja diselenggarakan saat minggu perkuliahan. Jika diadakan saat liburan maka peserta yang ikut hanya sedikit saja. Hanya lomba tertentu saja yang diadakan saat hari kuliah, sedangkan kebanyakan lomba diadakan saat sabtu dan minggu. Jadi, tidak menjadi masalah,” ujar Pembantu Rektor Tiga Bidang Kemahasiswaan UMM ini.

Oleh: Sakinah Nur Rokhmah
Psikologi


Rabu

Minum Air Laut? Kenapa Tidak?

 

Sistem Desalinasi Bertenaga Matahari dengan hasil Air bersih lebih banyak,namun lower energi

Sekelompok tim peneliti asal Eropa berhasil mengembangkan teknologi desalinasi berbiaya rendah namun memiliki efisiensi tinggi dengan memanfaatkan energi sinar matahari. Penyulingan merupakan cara yang paling dimungkinkan untuk mendapatkan air minum di negara yang panas dan kering terutama di daerah lautan dan samudera.

Salah satu metode penyulingan tradisional yang biasa digunakan adalah desalinasi berbasis osmosis terbalik (reverse osmosis/RO). Dengan metode ini, proses penyilingan menjadi mahal dan boros energi, apalagi mengingat banyaknya air laut yang harus disuling.

Oleh para peneliti, metode penyulingan dimodifikasi. Untuk mengurangi biaya dan konsumsi energi, mereka menyediakan energi mekanik yang dibutuhkan untuk RO dengan sistem Organic Rankine Cycle (ORC) bersuhu rendah yang dikombinasikan dengan sel surya.

ORC sendiri merupakan siklus thermodinamik untuk memulihkan panas (umumnya panas buangan) dan mengonversikannya ke dalam bentuk energi yang lebih bermanfaat, misalnya listrik ataupun energi mekanik. Sel surya juga bisa memasok energi panas ke ORC, yang kemudian akan memproduksi energi mekanik untuk memberi tekanan pada air.

Sistem ini berhasil meminimalisir kebutuhan penggunaan energi dan menghasilkan air segar dalam jumlah yang lebih banyak. Dan selain memutakhirkan teknologi penyulingan, peneliti juga mengamati dampak lingkungan dan juga sosioekonomi yang ditawarkan sistem baru ini dan kemudian mengembangkan strategi baru untuk menyediakan teknologi ini ke masyarakat umum.

Jadi, aplikasi dari  sistem RO-Solar-Rankine ini akan memungkinkan negara-negara seperti yang berada di kawasan Timur tengah&afrika untuk memaksimalkan banyaknya energi surya yang ada untuk memproduksi air segar dari air laut yang jumlahnya juga sangat banyak.

Source : http://nationalgeographic.co.id/berita/2012/08/minum-air-laut-kenapa-tidak